Pusat Manufaktur

Pertaruhan ganda ASEAN antara lonjakan ekspor Tiongkok dan de-risiko global

Menganalisis bagaimana kelebihan kapasitas industri China membentuk kembali pola perdagangan ASEAN melalui empat tren utama, dan bagaimana negara-negara ASEAN mencari keseimbangan antara memperdalam hubungan ekonomi dengan China dan menghadapi tekanan de-risiko global.

Pendahuluan

Untuk waktu yang lama, ASEAN telah menjadi penerima manfaat utama dari pertumbuhan pesat Tiongkok dan integrasi rantai pasokan global. Namun, ketika masalah kelebihan kapasitas industri Tiongkok semakin menonjol, dengan sejumlah besar barang murah membanjiri pasar regional, ASEAN menghadapi tekanan strategis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada tahun 2023, Tiongkok melampaui Amerika Serikat dan Uni Eropa menjadi pasar ekspor terbesar ASEAN, tetapi pertumbuhan ekspor Tiongkok ke ASEAN jauh melampaui ekspor ASEAN ke Tiongkok, menyebabkan defisit perdagangan melebar hingga lebih dari 190 miliar dolar AS. Sementara itu, ekonomi maju seperti AS dan Eropa mendorong strategi "de-risking", yang meminta ASEAN mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan Tiongkok. Hal ini menempatkan ASEAN dalam permainan ganda: harus memanfaatkan investasi dan perdagangan Tiongkok untuk mendorong industrialisasinya sendiri, mencegah industri lokal dihancurkan oleh impor murah, dan pada saat yang sama menjaga akses ke pasar Barat.

Empat Tren Pembentukan Ulang

Kelebihan kapasitas Tiongkok membentuk kembali lanskap ekonomi ASEAN melalui empat tren yang saling terkait:

1. Lonjakan Impor Tiongkok dan Ketidakseimbangan Perdagangan

Ekspor Tiongkok ke ASEAN meningkat 12% lagi pada tahun 2024, sementara ekspor ASEAN ke Tiongkok hanya naik 2%. Indonesia dan Thailand sangat terpengaruh: impor dari Tiongkok masing-masing meningkat hampir 18% dan 14%, sementara ekspor kedua negara ke Tiongkok turun 4% dan 5%. Di masa lalu, ekspor Tiongkok sebagian besar berupa barang setengah jadi, yang membantu ASEAN memproses dan mengekspor kembali; tetapi sekarang pangsa barang konsumsi akhir meningkat, secara langsung berdampak pada manufaktur lokal. Industri tekstil Indonesia memecat 80.000 pekerja pada tahun 2024, dan 280.000 pekerjaan lainnya berisiko; Vietnam dan Thailand juga mengalami fenomena serupa, dengan barang murah Tiongkok membanjiri melalui e-commerce lintas batas, menekan ruang hidup usaha kecil dan menengah.

2. Pedang Bermata Dua dari Integrasi Rantai Pasokan yang Mendalam

Integrasi rantai pasokan ASEAN dengan Tiongkok terus menguat, dengan pangsa Tiongkok dalam perdagangan ASEAN meningkat dari 12% pada tahun 2010 menjadi 20% pada tahun 2023. Defisit perdagangan keseluruhan ASEAN diimbangi oleh surplusnya dengan wilayah lain di dunia (terutama AS), menunjukkan bahwa integrasi ini sebagian bergantung pada permintaan akhir AS. Namun, jika permintaan AS melambat atau pembatasan terhadap Tiongkok dialihkan ke ASEAN, kerentanannya menjadi jelas. Perusahaan Tiongkok mendirikan pabrik skala besar di ASEAN, yang merupakan investasi sekaligus transfer kapasitas, yang dapat membuat ASEAN menjadi saluran re-ekspor "Made in China", memicu lebih banyak pengawasan dari pasar Barat.

3. Industri Lokal Tertekan

Barang murah Tiongkok tidak hanya berdampak pada industri tradisional seperti tekstil dan furnitur, tetapi juga mulai mempengaruhi sektor baru seperti energi baru dan elektronik. Indonesia memberlakukan tarif pengaman atas impor barang jadi (seperti tekstil, keramik), sementara Thailand dan Vietnam juga memperkuat penyelidikan anti-dumping. Namun, negara-negara ASEAN umumnya kekurangan alat remedi perdagangan yang efektif, dan perjanjian perdagangan bebas (ACFTA, RCEP) memberikan ruang terbatas untuk melindungi industri dalam negeri.

4. Tekanan Eksternal dan Dilema Kebijakan

Tarif AS terhadap Tiongkok (misalnya, 100% untuk kendaraan listrik, 50% untuk fotovoltaik) mendorong sebagian kapasitas beralih ke ASEAN, tetapi juga membuat ASEAN menghadapi kecurigaan "pemutihan asal". Mekanisme penyesuaian perbatasan karbon UE dan uji tuntas rantai pasokan semakin meningkatkan biaya kepatuhan. Negara-negara ASEAN terjebak di antara modal Tiongkok dan aturan Barat.## Respons Kebijakan dan Koordinasi Regional

Menghadapi situasi yang kompleks, ASEAN perlu mengambil strategi multi-dimensi:

  • Memperkuat mekanisme pertahanan perdagangan regional: Menyamakan aturan antidumping, bea masuk imbalan, dan tindakan pengamanan, meningkatkan kecepatan respons terhadap lonjakan impor dari Tiongkok.
  • Mempercepat diversifikasi rantai pasok: Memperdalam perdagangan intraregional dalam kerangka RCEP, sekaligus memperkuat kerja sama industri dengan mitra seperti Jepang, Korea Selatan, dan India, mengurangi ketergantungan pada satu sumber.
  • Meningkatkan daya saing industri: Melalui transformasi digital, pelatihan keterampilan, dan investasi infrastruktur, memperkuat ketahanan perusahaan lokal terhadap guncangan.
  • Memperkuat komunikasi eksternal: Melakukan dialog dengan ekonomi seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa mengenai kelebihan kapasitas dan isu derisking, menghindari dampak negatif dari tindakan sepihak.

Kesimpulan

Kelebihan kapasitas Tiongkok dalam jangka pendek dapat membawa barang antara murah dan investasi bagi ASEAN, namun dalam jangka panjang, pelebaran defisit perdagangan, penyusutan industri lokal, dan risiko kepatuhan eksternal akan menggerogoti dasar pembangunan regional. ASEAN harus, dari perspektif komunitas, mengoordinasikan kebijakan, memperdalam integrasi, dan mencari jalur pembangunan berkelanjutan dalam persaingan ketat antar kekuatan besar. Lima tahun ke depan, apakah ASEAN dapat mempertahankan otonomi ekonominya sambil menyerap dividen Tiongkok, akan menentukan hasil akhir statusnya sebagai "pabrik Asia".

Pemakaian sumber · aseaninsight

aseaninsight menempatkan catatan ini dalam Wawasan ASEAN menerbitkan analisis dan briefing multibahasa.. tanggal, nama, dan perubahan status masih harus diperiksa; Tautan sumber perlu dibuka sebelum ringkasan dipakai ulang. Briefing ASEAN / Liputan terbaru briefing ASEAN. / Perdagangan Lintas Batas menjelaskan sudut redaksi lokal.

Tautan sumber

  1. https://asiasociety.org/policy-institute/asean-caught-between-chinas-export-surge-and-global-de-riskingUtama

Artikel terkait

Kembali ke kanal