Pusat Manufaktur

ASEAN di Celah Sempit: Bagaimana Limpahan Kapasitas Produksi Tiongkok dan “De-risking” Global Menata Ulang Lanskap Industri Kawasan

Kelebihan kapasitas industri Tiongkok meluber ke Asia Tenggara, ASEAN secara bersamaan menanggung lonjakan impor, tekanan terhadap industri lokal, dan tekanan “de-risking” dari ekonomi maju. Artikel ini menganalisis dilema keseimbangan ganda ASEAN dan arah penataan ulang industri jangka panjang dari perspektif pembagian kerja regional, arus perdagangan, dan instrumen kelembagaan.

Dari “Penerima Manfaat” ke “Titik Tekanan”: Transformasi Identitas

Selama lebih dari dua puluh tahun terakhir, ASEAN adalah salah satu penerima manfaat paling langsung dari pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang pesat dan integrasi rantai pasokan global: investasi, pesanan, barang setengah jadi, dan akses pasar mengalir masuk secara bersamaan, membuat organisasi regional beranggotakan sepuluh negara ini secara bertahap tumbuh menjadi pusat manufaktur dan perdagangan yang menyumbang hampir 8% ekspor global.

Namun laporan isu terbaru yang diterbitkan Institut Kebijakan Asia Society (Asia Society Policy Institute) menilai bahwa struktur penerima manfaat ini sedang ditulis ulang. Penulis laporan, Brendan Kelly dan Shay Wester, menunjukkan bahwa seiring kelebihan kapasitas industri Tiongkok melimpah ke luar kawasan, ASEAN telah didorong ke zona tengah friksi ekonomi global—ASEAN adalah pihak yang menerima limpahan kapasitas sekaligus pihak yang menanggung tekanan dari agenda “de-risking” ekonomi maju.

Perlu dicatat bahwa ASEAN sejauh ini secara umum masih berada di luar sengketa perdagangan global seputar kebijakan industri Tiongkok, serupa dengan periode gesekan perdagangan AS-Tiongkok sebelumnya. ASEAN terus memperoleh investasi dan perdagangan dari berbagai pihak, dan semakin dalam tertanam dalam rantai pasokan Tiongkok yang menopang ekspornya sendiri. Persoalannya, ruang untuk mengambil manfaat dari kedua belah pihak ini sedang menyempit, bukan meluas.

Posisi Pasar Ekspor dan Defisit Meningkat Bersamaan

Perubahan struktural pertama tercermin dalam arah data perdagangan.

Pada 2023, ASEAN melampaui Amerika Serikat dan Uni Eropa, menjadi pasar ekspor terbesar Tiongkok; pada 2024, ekspor Tiongkok ke ASEAN tumbuh lagi 12%, sementara ekspor ASEAN ke Tiongkok hanya tumbuh 2%. Ketidakseimbangan di tingkat negara lebih tajam: pada 2024 impor Tiongkok dari Indonesia dan Thailand masing-masing tumbuh hampir 18% dan 14%, sedangkan ekspor kedua ekonomi utama ASEAN itu ke Tiongkok masing-masing turun 4% dan 5%.

Dalam siklus yang lebih panjang, pangsa Tiongkok dalam perdagangan ASEAN telah naik dari 12% pada 2010 menjadi 20% pada 2023. Pada saat yang sama, defisit perdagangan ASEAN terhadap Tiongkok telah melebihi 190 miliar dolar AS. Ini berarti, ketika ASEAN semakin erat terikat dengan Tiongkok dalam rantai pasokan, ketidakseimbangan neraca perdagangan bilateralnya juga ikut membesar.

Perubahan Sifat Impor Lebih Krusial daripada Skala Impor

Jika hanya melihat totalnya, mudah menarik kesimpulan yang relatif moderat: secara tradisional ekspor Tiongkok ke ASEAN didominasi barang setengah jadi, yang menyediakan input lebih murah bagi industri ekspor ASEAN sendiri, dan merupakan bentuk komplementer khas perdagangan pengolahan. Analisis terkini juga menunjukkan bahwa defisit ASEAN terhadap Tiongkok sebagian besar diimbangi oleh surplusnya dengan kawasan lain di dunia—terutama Amerika Serikat. Dengan kata lain, manfaat integrasi ekonomi ASEAN–Tiongkok sebagian bergantung pada tetap kuatnya permintaan akhir Amerika Serikat.

Risiko sebenarnya terletak pada pergeseran struktur impor. Ketika semakin banyak ekspor Tiongkok menjadikan ASEAN sendiri sebagai pasar akhir, bukan sekadar simpul transit untuk pengolahan, makna ekonominya ikut berubah: perdagangan pengolahan menciptakan lapangan kerja dan kapasitas lokal, sedangkan impor produk jadi berharga murah dapat langsung menggantikan produksi dan lapangan kerja lokal, serta memperdalam ketergantungan ekonomi.Saat ini, guncangan ini paling terkonsentrasi pada kategori bernilai tambah rendah seperti tekstil, furnitur, makanan, dan minuman; hal ini sudah tercermin dengan jelas di pasar Thailand, Indonesia, dan Singapura. Bagi manufaktur ASEAN yang didominasi oleh UMKM, kategori seperti ini memiliki daya serap tenaga kerja terkuat, tetapi juga paling minim ruang penyangga untuk menahan guncangan harga.

Industri Tekstil dan E-commerce Lintas Batas: Sisi Tekanan yang Paling Awal Terlihat

Indonesia adalah sampel tipikal untuk mengamati tekanan ini. Menurut data pejabat Indonesia, pada 2024 industri tekstil negara itu sudah mengalami PHK terhadap 80.000 pekerja, pada 2025 sekitar 280.000 pekerjaan lainnya berisiko, dan 60 perusahaan berencana melakukan PHK lebih lanjut. Bagi sebuah ekonomi yang lapangan kerja manufakturnya sangat bergantung pada sektor padat karya, penyesuaian semacam ini akan cepat merambat ke konsumsi dan keuangan daerah.

Situasi yang dihadapi Vietnam menunjukkan saluran transmisi lain: membanjirnya barang murah Tiongkok melalui platform e-commerce lintas batas. Berbeda dari perdagangan tradisional, e-commerce lintas batas cukup banyak melemahkan penyangga dan visibilitas yang disediakan oleh tarif dan statistik bea cukai, sehingga guncangan impor bekerja lebih langsung pada ritel dan manufaktur lokal. Hal ini menimbulkan tuntutan kelembagaan baru bagi instrumen remedi perdagangan, kapasitas administrasi perpajakan, dan kerangka regulasi platform di negara-negara ASEAN.

Keseimbangan Ganda: Dividen Investasi dan Tekanan Industri Berdampingan

Laporan menekankan bahwa pemerintah negara-negara ASEAN menghadapi bukan tekanan satu arah, melainkan seperangkat keseimbangan ganda.

Keseimbangan pertama bersifat eksternal: di satu sisi, integrasi ekonomi dengan Tiongkok terus mendalam; di sisi lain, ada tekanan berkelanjutan dari ekonomi maju untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok Tiongkok.

Keseimbangan kedua bersifat internal: di satu sisi, memanfaatkan impor murah dari Tiongkok dan investasi Tiongkok yang terus tumbuh untuk mendorong pertumbuhan industri, memperluas lapangan kerja, dan ekspor; di sisi lain, mencegah input dan produk jadi tersebut justru menekan industri lokal dan membatasi jalur industrialisasi mereka sendiri.

Laporan secara khusus menyoroti dua dimensi yang mudah diabaikan. Pertama, ASEAN semakin menjadi “laboratorium” bagi manufaktur lepas pantai skala besar perusahaan Tiongkok; hal ini membawa kapasitas, teknologi, dan lapangan kerja, tetapi juga risiko industri lokal terhimpit oleh kapasitas Tiongkok yang terintegrasi. Kedua, pengawasan ekonomi maju terhadap rantai pasok yang terkait dengan Tiongkok semakin ketat, yang dapat membahayakan akses ASEAN ke pasar ekspor utama—yakni realisasi dividen investasi bergantung pada apakah pasar eksternal bersedia terus menerima produk ASEAN yang memiliki jejak rantai pasok Tiongkok.

Lingkungan Eksternal: Tarif, De-risking, dan Kelayakan Pengalihan Ekspor

Reaksi perdagangan terhadap kelebihan kapasitas Tiongkok sebelumnya terutama terpusat pada ekonomi maju. Amerika Serikat telah memberlakukan tarif 100% terhadap kendaraan listrik Tiongkok, 50% terhadap sel surya, dan 25% terhadap baterai lithium-ion; Uni Eropa mengenakan tarif tambahan hingga 45% terhadap kendaraan listrik Tiongkok, dan meluncurkan investigasi anti-subsidi terhadap beberapa sektor seperti tenaga angin, fotovoltaik, dan kereta listrik.

Namun dampaknya jelas tidak terbatas pada ekonomi maju. Turki, India, Brasil, dan negara-negara lain juga mengalami lonjakan impor produk manufaktur Tiongkok, lalu memberlakukan pembatasan perdagangan baru atau muncul tanda-tanda awal gesekan perdagangan. Tren ini diperkirakan akan terus menyebar.Latar belakang kapasitas produksi lebih lanjut menjelaskan sifat persisten dari masalah ini. Di sektor kendaraan listrik, tingkat pemanfaatan kapasitas industri otomotif Tiongkok turun tajam tahun lalu, lebih dari separuh perusahaan merugi, dan pada 2023 Tiongkok melampaui Jepang sebagai eksportir mobil terbesar dunia; di sektor fotovoltaik dan baterai lithium-ion, kapasitas Tiongkok diperkirakan akan melebihi total permintaan global sebesar 2 hingga 3 kali dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam lanskap ini, laporan mempertanyakan “apakah Tiongkok dapat secara efektif mengalihkan ekspor ke ASEAN dan pasar berkembang lainnya”: di tengah pembatasan perdagangan AS dan UE yang terus diperketat, gelombang baru tarif pemerintahan Trump, dan upaya “decoupling” Tiongkok sendiri yang berjalan paralel, ruang bagi pengalihan ekspor tidaklah tak terbatas. Ini berkaitan langsung dengan batas atas tekanan aktual yang dihadapi ASEAN sebagai pihak penerima.

Satu sisi makro yang sering diabaikan adalah: ketika ASEAN menyerap lebih banyak barang setengah jadi dan barang konsumsi Tiongkok, hal itu akan membawa efek disinflasi yang berkelanjutan dan membantu menjaga inflasi kawasan tetap terkendali. Namun “dividen” pada tingkat harga ini justru dapat menutupi guncangan struktural di tingkat industri, sehingga respons kebijakan menjadi tertunda.

Instrumen Kelembagaan: ACFTA, RCEP, dan Kapasitas Koordinasi Kawasan

Jalur kebijakan yang diberikan laporan ini jelas dan pragmatis.

Bagi ASEAN, prioritasnya adalah memperkuat instrumen perdagangan, meningkatkan kapasitas koordinasi kawasan untuk menghadapi lonjakan impor, sekaligus terus berinvestasi dalam daya saing sendiri; mendorong diversifikasi rantai pasok untuk mengurangi kerentanan disebut sebagai tugas kunci. Pada tingkat kelembagaan, Perjanjian Perdagangan Bebas Tiongkok–ASEAN (ACFTA) dan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) menyediakan kerangka yang sudah tersedia, yang dapat digunakan untuk menjaga ruang pertumbuhan industri kawasan di bawah tekanan eksternal.

Bagi Amerika Serikat dan ekonomi utama lainnya, rekomendasi laporan adalah: mereka harus secara proaktif berkomunikasi dengan ASEAN mengenai kekhawatiran atas kelebihan kapasitas dan “de-risking”, bukan memberikan tekanan sepihak, untuk membantu ASEAN terus menjadi mitra kunci dalam proses diversifikasi rantai pasok mereka.

Penilaian Jangka Panjang: Bagaimana Pembagian Kerja Kawasan Akan Ditata Ulang

Dengan menempatkan petunjuk-petunjuk di atas dalam kerangka Komunitas Ekonomi ASEAN dan rantai industri kawasan, kita dapat melihat beberapa arah jangka menengah hingga panjang yang mungkin terjadi.

Pertama, kepentingan dalam pembagian kerja industri di dalam ASEAN tidak selaras. Negara-negara yang menerima manufaktur lepas pantai Tiongkok (seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, Malaysia) dan anggota yang menjalankan fungsi kantor pusat regional serta hub keuangan dan perdagangan (seperti Singapura) memiliki perbedaan sensitivitas yang jelas terhadap lonjakan impor dan tindakan trade remedy. Hal ini akan secara langsung memengaruhi apakah ASEAN dapat membentuk posisi bersama yang terpadu dalam merespons perdagangan.

Kedua, akun eksternal ASEAN memiliki ketergantungan struktural. Defisitnya terhadap Tiongkok cukup bergantung pada surplus terhadap pasar akhir seperti Amerika Serikat untuk menyeimbangkannya. Begitu permintaan AS atau lingkungan tarif mengalami penyesuaian, keberlanjutan defisit ASEAN terhadap Tiongkok, bahkan stabilitas model perdagangan pengolahan di kawasan, akan diuji secara bersamaan.

Ketiga, meningkatnya tarif dan hambatan non-tarif akan mendorong perusahaan Tiongkok untuk mempercepat ekspansi lokalisasi di ASEAN guna menghindari pembatasan. Ini merupakan peluang bagi investasi, lapangan kerja, dan transfer teknologi, tetapi juga akan memperkuat intensitas persaingan di pasar lokal, dan dapat membuat ekspor ASEAN terus menghadapi tekanan pemeriksaan asal-usul dan rantai pasok.Keempat, titik berat arus perdagangan kawasan sedang bergeser dari rantai satu arah “Tiongkok–ASEAN–Eropa/Amerika” menuju jaringan multiarah yang lebih kompleks. Siapa yang mampu menempati mata rantai perantara yang tak tergantikan dalam jaringan ini akan menentukan posisi industri negara-negara anggota ASEAN dalam sepuluh tahun ke depan.

Penutup

ASEAN kemungkinan besar tidak akan memilih pihak antara Amerika Serikat dan Tiongkok, tetapi biaya untuk “tidak memilih pihak” sedang meningkat. Ruang kebijakan yang sesungguhnya tidak terletak pada keberpihakan eksternal, melainkan pada kapasitas internal: instrumen pemantauan impor dan remedi perdagangan yang lebih efektif, kebijakan industri kawasan yang lebih terkoordinasi, struktur rantai pasok yang lebih tangguh, serta daya tawar yang lebih proaktif dalam berkomunikasi dengan semua pihak.

Di persimpangan dua kekuatan—limpahan kapasitas produksi Tiongkok dan de-risking global—ASEAN adalah penerima pasif sekaligus masih memiliki peluang untuk menjadi peserta aktif dalam pembentukan aturan dan pengorganisasi industri. Jendela waktunya tidak akan lama.

Pemakaian sumber · aseaninsight

aseaninsight menempatkan catatan ini dalam Wawasan ASEAN menerbitkan analisis dan briefing multibahasa.. tanggal, nama, dan perubahan status masih harus diperiksa; Tautan sumber perlu dibuka sebelum ringkasan dipakai ulang. Briefing ASEAN / Liputan terbaru briefing ASEAN. / Perdagangan Lintas Batas menjelaskan sudut redaksi lokal.

Tautan sumber

  1. https://asiasociety.org/policy-institute/asean-caught-between-chinas-export-surge-and-global-de-riskingUtama

Artikel terkait

Kembali ke kanal